Purnama di Madinah

20170311_193254Malam ini, bulan bersinar cantik di atas Nabawi. Melengkapi dengan sempurna gulana di hati karena inilah malam terakhir di kota Rasulullah.

City tour hari ini kembali melewati Bukit Uhud, yang menjadi saksi bisu kepahlawanan Hamzah bin Abdul Muthallib, singa Allah dan singa RasulNya.

Dan aku mengingat engkau, anakku tercinta Hamzah Muhammad Salman. Bukan tanpa sebab kurangkaikan tiga manusia mulia di namamu. Agar kau seperkasa mereka. Agar kau semulia mereka. Agar kau secerdas ketiganya.

Jadilah kau sebagai mujahid, Nak… dan jadilah kau sebagai pelindung saudara-saudaramu.

Madinah dihiasi Purnama. Shalat di bagian luar dengan disertai hembusan lembut angin malam.

Besok aku pergi duhai Rasulullah. Menuju tanah haram, tempatmu lahir dan menjadi manusia pilihan.

Aku percaya, aku akan datang lagi…

 

Allaahuma sholli alaà muhammad

 

 

Menjumpai rumahmu, Cinta

Hari ini kaki menjejak Raudhah lagi. Meledak semua rasa diri seperti serpihan tiada arti. Ya Allah, masih pantaskah aku menyatakan diri sebagai ummat kekasihMu. Padahal jauh betul laku diri ini dari akhlak yang dicontohkannya.

Di Raudhah pula aku tergugu…. demi melihat makam para khalifah. Para pemimpin yang rela meninggalkan kemewahan dunia karena takut panasnya siksa neraka.

Ya Allah karuniakan kami pemimpin yang mencintaiMu dan kami pun mencintainya….

Karuniakan kami pemimpin setegar Umat dan selembut Abu Bakar

Ya Allah….muliakan da’wah ini dengan kehadiran mereka yang menjadikan cinta padaMu lebih dari segalanyaIMG-20170310-WA0026

 

My Second Holy Journey

Allah memang selalu punya caranya sendiri buat memaksa hambaNya mendekat. Betapa baik Allah dengan mengajakku mendekat lewat memanggil kembali ke tanah haram.

9 Maret 2017

Sampai lagi di negeri Raja Salman. Ketika pesawat hendak mendarat, terlihat dataran di Jeddah yang demikian kering. Terbayang, bagaimana perjuangan As Saabiquunal Awwaluun di bumi yang tandus ini.

Mendadak mata membasah membayangi sebentar lagi akan tiba di tanah haram. Akan tiba di Madinah, tempat Rasulullah membangun peradaban baru.

Kata siapa aku tak rindu pada tanah suci…. Maha Suci Allah atas segalanya

My Real Snorkeling

Snorkeling pertama di perairan pulau lengkuas, Belitung. Dengan kejamnya kami disuruh turun di tengah laut yang anginnya kenceng banget. tanpa ada guide sama sekali. Alhasil snorkelinglah…dengan bantuan tali yang nyangkut di kapal.

Nah, di Iboih ini… kami nyeberang ke Pulau Rubiah, pake perahu kecil sewa 100 ribu. Trus ada guide nya, bayar 100 ribu, yang bawa kamera under water untuk disewa juga 100 ribu. Peralatan snorkelingnya sewa 40 ribu per orang. Jadi total semua bayarnya 400 ribu (include diskon ya).

Sampe rubiah…. ikan-ikan dimana-mana…. guide langsung ngajarin buat snorkeling dan cari spot-spot oke buat pepotoan…

daaan… enjoy…

Oh ya…. penjelasan…. aku gak pake sepatu katak. gak muat kakinya. maklum gede banget. trus… telapak kaki ditutupin sama kaos kaki item….. alhamdulillah, sampe selesai snorkeling… aurat aman. IMG_4559 IMG_4567 IMG_4573 IMG_4586 IMG_4595 IMG_4600 IMG_4617 IMG_4633 IMG_4621 IMG_4636 IMG_4649 IMG_4651 IMG_4686 IMG_4691 IMG_4694 IMG_4701 IMG_4709 IMG_4718 IMG_4732

Journey of Sabang: Pria Laot Water Falls

pria laot

Air terjuan Pria Laot Sabang.

Ini destinasi yang gak sengaja dijalani saat 15 April lalu kami, gw sama mba intan, memutuskan nambah semalam lagi di Sabang. Pisah sama rombongan kantor yang balik dari tugas Bimtek penyiaran perbatasan.

Jadi liburan itu dimulai justru ketika kami berpisah dari rombongan kantor. Yeaah!!! *plaaak!
Dikasih pinjam mobil lengkap dengan sopirnya, untuk kelilingan Sabang, oleh seorang saudara di sana. Namanya Pak Ibrahim, sopirnya. Entah kenapa juga, mba Intan panggil dia Mas Bram…! Plis deh Mba intan, kalo mau panggil Om Baim masih mending… ini Mas Bram… Hellllooww…!!! CHSI banget

Pertemuan kami yang pertama itu adalah di cafe de Sagoe. Tempat kami diturunkan dari bis rombongan. dan sarapan mie aceh dulu… yippiii!!! meski berjanji makan sate gurita yang terkenal di sabang, tapi itu kan tambahan ya…. yang penting kita snorkeling di Iboih… => bacanya IBOH!

berhubung cuma seharin aja jatah waktu di sabang, abis dari de Sagoe kami mencari Guest House buat bermalam. Emang gak nginep di Iboih. Katanya sih emang mending kayak gitu. supaya besok ngejar kapal pertama dari Sabang ke Banca Aceh lebih cepet. Apalagi di Iboih itu gak ada apa-apa dan jauh dari mana-mana. Okelah…!

Dan sampai kita ke Guest House Pantai Kasih. entah di belah mana sabang. Tapi itu Guest House di tepi pantai. Semalam 350 ribu. Ekstra Bed jadi 400 ribu semalam. Lumayan kamarnya lega…. Abis itu cabut ke pasar… cari jilbab kaos, yang ternyata kekurangan. hhahahahha….

DSC_1186

Abis dari pasar… yang ternyata harga jilbab di sabang itu mahal ya… :p, kita langsung ke air terjun yang arahnya sama dengan ke Iboih. Sebelumnya mampir dulu ke taman kota sabang yang ada tulisan I LOVE SABANG. Dari situ view ke lautnya tsakep bangeeett…

DSC_1178

Nah, tsakep kaaan….

Baru deh abis pepotoan, kita meluncur ke air terjun.
Oh iya, gw kelayapan di sabang sama Mba Intan dan De Uto. Mba intan ini temen kantor yang sering jadi travel mate gw… dan De Uto ini keponakan gw yang tinggal di Aceh.

Sampe di lokasi parkir… tiba-tiba gw inget, belom minum meloxycam. Sejenis obat anti inflamasi yang selama sebulanan ini nemenin gw buat mengurangi rasa sakit di seluruh sendi kaki, lutut, tumir, sampe siku dan pergelangan tangan.

apa hubungannya…???

ya ada lah… jalanan ke air terjun donk.. berbatu batu… gede pula…! Ya salaaam… gw kemaren manjat pagaer di depan tugu o kilometer aja lutut gw bunyi dan abis itu berasa ada yang aneh sama lutut. Sekarang kudu manjat-manjatt… huhuhuhu…..semoga Allah kuatkan kaki gw… *mau nelpon suami sambil ngadu …eh sinyal gaa ada

DSC_1211

Setelah sejam berjibaku dengan batu-batu besar, tanah lumpur dan air yang mengalir…sampe juga di air terjun PRIA LAOT SABANG.

DSC_1212

Cuma itu…? iya… cuma itu. Tapi gw bahagiaaa banget sampe sana…. *sambil urut-urut kaki. Alhamdulillah mba intan bawa aqua…jadi lumayan lah, buat hilangkan dahaga. Sedihnya…itu air bening cuma bisa dilihatin aja… tanpa berani nyebur. Lah, gw gak tau berapa dalam itu kolam di bawah air terjun. *yang ternyata…. pas kami pulang, banyak orang naik buat berenang… *hadeuuuhhhh…

DSC_1202

apalagi lah kelakuan kalo gak pepotoan..? Tapi sungguh… sebuah batu datar yang bisa dipake buat rebahan… lumayan banget buat ngilangin pegel dari punggung sampe ujung kaki. *iye.. udah renta… kan di antara empat orang itu, yang udah turun mesin alias ngelahirin anak, gw doank *ALASAAAAN!

DSC_1204

Gak lama kami di depan air terjun. Puas menatap air yang tumpah dari atas. plus puas fotoin diri sendiri…baliklah ke mobil. demi mengejar snorkeling di IBOIH.

DSC_1222 DSC_1223 DSC_1224    DSC_1229 DSC_1230  DSC_1222 DSC_1224DSC_1236 DSC_1228  DSC_1233 DSC_1238DSC_1210

 

Begitu sampe di mobil dan keluar jalan raya, syukurnya langsung nemuin warung yang jualan minuman kemasan. Langsung lah lima botol aqua dingin, 4 teh kotak, 1 minute maid, 1 kotak milo. buat berempat… dan gw langsung habisin milo, minute maid, teh kotak dan aqua dingin. Nah no wonder abis itu gw kenyang… gak pengen makan.

IBOIH… I’M COMING

sembilan

Keriuhan Pemilu selalu menghadirkan sesak tersendiri. membawa ingatan pada perjuangan yang lalu-lalu. saat bersama dengan sahabat-sahabat….

saat bersama saudara yang dititipkan Allah lewat rahim da’wah ini

Sembilan tahun berlalu

aku selalu termangu melihat pijakan kaki tempat berdiri. tiada lagi kau disini, saudaraku. tiada lagi kau bersamaku merancang hari, membalut aksi, semuanya

anak-anak itu sudah besar sekarang. Mereka yang dulu datang ke masjid dengan baju cantik kanak-kanaknya … yang hadir setiap hari melafal a ba ta tsa

mereka sudah besar…

aku merindukanmu

Ini tentangmu, Sahabat Jiwaku

Image

ini tentangmu
yang datang malam itu, meski tidak sendiri.
Tiba-tiba aku terhenyak pada sebuah keadaan,
betapa semuanya “nyambung” dan terasa pas membicarakannya denganmu.

Merunut pada waktu yang sudah lalu.
Aku terpaku pada sebuah kenyataan pula, betapa selama ini ide-ide kita demikian dekat. Berkeliaran satu demi satu. Merangkai harmoni dalam sebuah cita-cita dan harapan.

Kecenderungan yang sama, ambisi yang serupa, dan cita-cita yang satu.
Disitulah kita. Mungkin lebih dari itu.
Disitulah dirimu merangkaiku untuk tiba pada jalan yang sama denganmu.

Betapa kusadari, hari yang berjalan meski tanpamu, tapi itu adalah mimpi kita bersama.
Jatuh bangunku yang sendiri, tanpa kau ada lagi, tapi itu mimpi kita.

Oh dear….

apa yang harus kukatakan melihatmu sekarang. Mimpi kita masih kurajut.
Tapi tak ada kau di sana.
Memang kita sadar, tak mesti kita selalu bersama mengejar mimpi.
Tapi kulihat dirimu….
Kemana mimpi-mimpi besarmu?

Peta jalan yang kita lukis saat itu, masih jelas tergambar dan jadi panduanku melangkah
Tapi dimana jejakmu sekarang

Kau sahabat jiwaku
Peretas jalanku
Pemeta bintang-bintang perjalananku

Aku tidak berharap lebih pada kenyataan saat ini kala kita tidak bersamaTapi izinkanku menginginkan menemuimu di ujung jalan yang sudah kita janjikan dulu

2 Desember 2013

sepotong firdaus itu bernama Indonesia

Gambar

Berjuta tanya timbul dalam benak, saat melintasi pulau Weh yang di dalamnya ada kota Sabang.

Negeri ini demikian indah. Bagaikan kepingan surga yang jatuh di muka bumi, dan bernama Indonesia.
Betapa banyak ketidaksyukuran kita atas anugerah negeri yang kaya, subur dan indah.

Indonesia… tanah yang kucinta,

negeri nan indah dan permai

laut biru sawah gunung luas

menghias bagai permata

hati merasa bahagia

di tanah subur mulia

sampai di akhir hidup tua

kucinta tanah pusaka….

*teringat gaya pak Poerwanto mengajarkan seni suara di kelas 4 SD dulu.Gambar

Sepenggal firdaus, kata Anis Matta.
Saat mencipta negeri ini, Tuhan sedang tersenyum! menurut Ahmad Heryawan

Apapun itu, kita memang tidak pernah bisa memilih, dimana tumpah darah kita
Seperti kita pun tak bisa memilih, siapa orang tua kita.

Gambar

Foto diambil di depan tugu 0 kilometer, Sabang, Aceh. Setelah diprovokasi untuk naik ke atas tebing, oke lah…. buat seorang yang takut dengan ketinggian, foto ini menakjubkan…. #edisi narsis

Another Day in Bali

Gambar

Kali ke dua ke Bali, setelah April lalu harus sampai enam hari di pulau dewata. Tapi kali ini urusannya berbeda, dan Cuma tiga hari aja. Seperti kata om Munawir, dibanding Bali mending menyelusup di pulau Jawa dan Sumatera. Tapi kalau aku, ditambah Kalimantan dan Sulawesi.Gambar

Urusan  jelajah menjelajah nusantara ini memang buka cakrawala pikir baru. Bahwa betapa bumi yang dianugerahkan Allah pada bangsa ini demikian besar dan beraneka ragam. Sangat tidak arif kalau memandang negeri ini lewat kacamata kota yang bernama Jakarta. Tsah… udah kayak yang bener.

 GambarHari pertama sampai di Bali, mampir ke acara Munas Forum Lingkar Pena. You know what, ketemua sama GOLA GONG!!! Horreeey….

Meski ini kali kedua ketemu penulis idola dari jaman ABG, tetap aja excite banget! Apalagi di forum FLP. Jadi maafkan saya kalau fotonya norak sejati….. *sungkem ke om Gong.

Next…. Ketemuan Teh Imun… *AGAIN…??? YES!

GambarMy beloved sister…. Yang selalu bercahaya di manapun dia berada. Terasa sekali semangatnya, ghirohnya, dan kesungguhannya memberikan semua ilmu yang dimilikinya untuk orang lain. Teh Imun…. No wonder, semua orang mencintaimu…

Kadang berpikir, mungkin memang salah satu takdir yang demikian manis dari Allah adalah persaudaraan dengan Teh Imun ini.

Bayangkan donk, sehari-hari di Inggris, dan saat balik Indonesia sulit kali kontak-kontakan, bahkan nginbox-in fesbuk gak dijawab. Hiks… Gimana lah pula mau ketemuan, di Bandung ataupun di Jakarta. Eh… masya Allah…. pas tugas ke Bali malah bisa ketemuan. What a nice surprise.

GambarEmang gitu ya… kalau ketemua orang shalih dan shalihat. Melihat wajahnya aja sudah demikian tenang….*padahal kemaren ada yang sesegrukan berduka. Meski aku pun menahan duka yang sama…. Dan… memeluk Teh Imun rasanya menyenangkan sekali. Sayang banget gak sempet cebur-ceburan di pantai ya Teh… #eh
I Love You Teh….

Oh ya, di Munas FLP ini ketemuan juga sama Kang Abik, Mba Helvy, Mba Dee, Mba Nanik, dan pentolan FLP lainnya. Hahhahaa…. terasa jadi reuni, karena banyak anak sastra. Eniwei, ngomong-ngomong soal Sastra, jangan-jangan gw doank yang gak nyambung sama urusan teori kesusasteraan ya. Apalagi ngumpul di antara para jagoan pena… huhuhuhuhu…

 Malamnya, ketemuan sepupuku yang kerja di Bali, Togu Nainggolan. Duh… jalan sama dia di sepanjang Kuta, berasa jalan sama Bule euy… :p

Gambar

Tapi sekali lagi…

Bali….

Mungkin karena macet saat mau kemana-mana, dan ongkos transportasi yang “berasa” banget… jadi belum nemu bagian seru-nya dimana. hihihihi…. Berasa kayak di Jakarta aja… kapanpun dimanapun mampet itu jalan… #eh

Sulbar lagi aja deh…. 😛

Menjejak di Bunga Bondar-Sipirok

Inilah Bunga Bondar! Kampung yang berulang kali disebut Papa dalam ceritanya. Negeri di Atas Awan, kalau Bung Pam bilang. Bisa saja disebut demikian, karena awan-awan berarak di samping mobil. Bunga Bondar berada di perut Gunung Sibualbuali yang masih aktif sampai sekarang. TUGU SIREGAR

Cerita dari Nenek Utur, di atas kampung ada Danau Marsabut yang sering jadi tempat bermain dan beristirahat. Sayangnya gak sempat naik menembus hutan untuk jumpai Danau itu. Bou Bunga adalah tante yang terlihat sangat sigap dan cekatan. Ini tak heran, karena darah siregar mengalir dalam dirinya.

Begitu pula yang dikatakan sopir L300 saat tau, inilah kali pertama aku sampai di Sidempuan. “Susah memang Boru Regar…”

bogor 13

Ya.. perjalanan 6 jam dari Parapat menuju Sidempuan bukanlah jalur menyenangkan. Selain jalanan banyak yang berlubang, jalan-jalan yang kecil, serta kelokan tajam membuat badan ini serasa dibanting. Oh ya, yang paling penting adalah sopir yang membawa L300 ini seakan sedang membawa Twin Otter…. Terbaaaaaaaang….. Alhasil gak ada cerita tidur di sepanjang jalan.

Uda Muda, anak dari Opung Bajora, dengan baik hati memesankan kamar hotel di Sidempuan untukku. Karena diperkirakan aku sampai di Sidempuan pada pukul 3 pagi. Agak-agak gak pantas sepertinya, bertamu di dini hari ya.

nenek utur

Hanya 5 jam di hotel, mata ini susah terpejam. Usai subuh, tidur lagi pun hanya sampai jam 7 pagi. Untuk kemudian sarapan dan dijemput Uda Hutur yang akan membawaku pulang kampung ke Bunga Bondar menemui Nenek Utur, istri dari Opung Hasanudin, adik bungsu Opung.

bogor 10

Subhanallah….

inilah potret amalan shalih yang terus terkenang hingga waktu yang panjang.

Kaum ibu di Bunga Bondar masih ingat dengan Opung Djafar Diapari, yang dikenal dengan nama Dokter Diapari. Mungkin karena Opunglah dokter pertama yang ada di Sidempuan, dan membanggakan Bunga Bondar karena Opung lahir di sana. bunga bondar 3

Kata Mama, kebaikan-kebaikan Opung pada kampung halamannyalah yang membuat nama Opung terus harum, sekalipun sudah hampir 40 tahun Opung berpulang.

Begitulah amal shalih, memanjangkan usia dengan desah kebaikan yang tak hilang.

Semoga Allah senantiasa melapangkan kubur Opung di sana…. amiiin.

Robbighfirlii… Waali Waalidayya Warhamhumaa Kamaa Robbayaani shoghiiro…

Ya Allah Ampuni dosaku

Ampuni pula dosa orang tuaku dan keluargaku

Sayangi mereka sebagaimana mereka senantiasa menyayangiku di sepanjang hidupnya… amiin

ulos